The King’s Speech

Jum’at kemarin (25 Februari 2011) untuk mengisi kepenatan dari rutinitas kantor, saya memutuskan untuk nonton film. Biasalah ceritanya menghibur diri gitu *cih! masih perlu hiburan nih yee*

Ya iyalah hiburan itu menurut aku penting, dari pada otak di isi terus mengenai masalah pikiran pekerjaan dikantor yang nggak ada habisnya, makanya aku pergi nonton saja.

Sekitar jam 5 sore *waktu Indonesia bagian barat ya tentunya, hihi* aku langsung cabut dari kantor menuju ke TKP yang tak lain adalah bioskop 21 Cinema PIM *Palembang Indah Mall ya, buka Pondok Indah Mall, karena saya sekarang sudah stay di Palembang*🙂

Karena semua sobat lama saya kebanyakan sudah tidak berada lagi di kota ini, dan teman kantor pun nggak ada yang mau ikut buat nonton bareng, akhirnya saya memutuskan untuk sendirian aja perginya.

Lha kok sendirian? Ya ampun Rey, lu nonton ke bioskop sendirian? Pede banget lu? Oh God!

D*mn! So what gitu lho kalau saya pergi nonton sendiri?

Toh duit saja sendiri juga yang bayar, bukan dari duit siapa pun. Nggak minta duit dari siapa-siapa juga kan? *lho kok kenapa jadi senewen sih, Rey?*

Oooh nggak maaf, maaf banget saya ini ndak senewen lho. Suwer dah! Cuma kadang ‘nggak enak’ banget kalau misalnya pas saya cerita gini sama seseorang “Saya sudah nontonnya, waktu itu sendirian lho karena mengisi ke boringan yang melanda” dan tentunya respon dari orang yang saya ceritakan tersebut kebanyakan akan bicara begini “ya ampun kayak apa aja nonton sendirian gitu! Pede lu nonton sendirian?”

Ya pedelah, ngapain amat minder ato malu cuma karena nonton!

Oke kembali ke persoalan.

Jadi Jum’at kemarin saya pergi ke 21 Cineplex. Ya maklumlah karena kan seperti akhir-akhir ini berita perfilman Hollywood yang heboh karena berencana enggan memutarkan filmnya di Negara kita ini.  So, saya pikir dengan menonton hari Jum’at sore itu siapa tau film yang saya tonton adalah film terakhirnya Hollywood yang bakal saya tonton.

Sampai di TKP tanpa pikir panjang aku langsung membeli 1 tiket film The King’s Speech. Resensi film ini sudah saya baca sebelumnya dari internet. Film ini cukup menarik minat saya karena ceritanya diambil dari kisah nyata, dikarenakan juga rata-rata saya sangat menyukai film yang diangkat dari kisah nyata.

Kursi yang telah di booking para calon penonton ternyata masih sedikit sekali saya lihat di monitor saat pembelian tiket. Kurang lebih ada 6 kursi yang telah di booking termasuk kursi dari tiket saya.

Saya beranggapan, mungkin selera orang-orang di Palembang kurang terlalu suka film-film yang rada ‘berat’ buat di tonton ini. Mungkin dilihat dari gambar “cover”nya saja itu film pasti memerlukan pemikiran yang fasih dalam menonton. Yaa kadang orang kan hanya menilai dari cover bukan melihat isi dari buku, mereka mengganggap jika cover nya saja sudah ‘nyeleneh” apalagi isinya, kemudian mereka akhirnya tidak memahami kadungan esensi dari buku tersebut *cileh! bahasa gue sok blagu banget ya, cih! :D*  Whateverlah, dengan sedikit kursi yang diduduki saya pikir akan semakin nyaman buat nonton. Semakin sepi semakin enak kok buat mikir alur filmnya hehehe..:D

Pertunjukan Theaterpun di mulai.

Yuk kita bahas film The King’s Speech ini.

The King’s Speech menceritakan kisah tentang Pangeran Albert (diperankan oleh Collin Firth) merupakan anak ke dua dari Raja Inggris George V . Dia sebenarnya bukanlah seorang pangeran  yang berbakat  untuk menjadi seorang  raja, terlebih lagi juga takdir yang dia miliki adalah menjadi orang yang gagap dalam cara bicara. Film ini pun tak luput menceritakan tentang kisah sejarah seorang yang memiliki karakter sosok yang begitu bersahaja lemut dan baik hati menjadi seorang Raja di era Perang Dunia ke II.  Sosoknya yang lembut dalam kesehariannya ternyata ia pernah mempermalukan kerajaan karena iya tergagap menyelesaikan kalimat saat pidato pertamanya di depan ribuan warga di stadion Wembley pada tahun 1952 silam.

Dibalik kehidupannya itu ternyata istrinya Elizabeth (diperankan oleh Helena Bonham Carter) selalu setia mendukung keberadaan Pangeran Albert. Ia sudah mencarikan berbagai dokter bahkan terapi dari berbagai cara untuk kesembuhan suaminya karena gagap. Tetapi semua itu tidak membuahkan hasil, bahkan nihil. Sampai suatu hari Elizabeth menemukan seseorang bernama Lionel Legue (diperankan oleh Geoffrey Rush) yang merupakan seorang ahli terapi.

Dimulai dari terapi inilah yang kemudian akan membawa kita dalam alur cerita. Begitupula sejak menjalankan terapi ini ada beberapa perseteruan antara Pangeran Albert dan Lionel tetapi akhirnya mereka menjadi ikatan yang tak terpisahkan .

Pangeran Albert inilah yang menggantikan tugas kakaknya yaitu Pangeran Edward (Guy Pearce).  Pangeran Edward rela melepaskan tanggung jawabnya menjadi Raja setelah kematian ayahnya kemudiania  Pangeran Edward lebih memilih memutuskan untuk menikah dengan seorang janda asal amerika.

Filmyang  sricptnya ditulis oleh David Seidler dan di sutradari oleh Tom Hooper  ini meletakkan kisahnya bahwa bisakah seorang yang Gagap dalam dalam menyampaikan pidatonya kepada masyarakat yang notabenenya sangat memerlukan seorang pemimpin yang bijak dalam keadaan ancaman perang. Satu hal yang mengagumkan dari film ini adalah dilantunkan dengan lantunan santai. Singkat kata penulis script ini sangat pas meramu kisah sejarah ini menjadi lebih ringan.  Tentunya juga dalam dialog Pangeran Albert sebagai seorang yang ingin dibimbing dalam terapi menghadapi Lionel sang terapi terdapat dialog yang lucu dan menggelitik demi terapi gagapnya yang sebisa mungkin bisa disembuhkan.  Melalui dialog Pangeran Albert dan Lionel lah kita sebagai penonton dapat melihat sisi karakter dari sang Pangeran  diperankan oleh Collin Firth yang mengharuskan ia menjadi sosok seorang yang gagap dalam pola bicara dan sepenuhnya Firth beranggung jawab dalam memerankan setiap adegannya.

Seperti yang dijelaskan diatas, bahwa kehidupan pangeran albert yang tidak lain adalah mendapat dukungan penuh dari sang istri Elizabeth, disinilah letak pesona sang Pangeran bisa dilihat karena sang istri begitu setia mendampingi suaminya sebagai raja. Tentunya Elizabeth adalah bukan seorang ratu yang seperti kebanyakan hanyalah mendambakan Tahta dalam kedudukannya. Begitu pedulinya dia dengan seorang suami yang selalu dia tuntun dalam menjadi seorang Raja. Ketika kita melihat adegan saat Elizabeth menangis karena lega setelah sang suami berhasil menyelesaikan pidatonya didepan ribuan warga, hal itulah yang dapat kita juga rasakan bahwa Elizabeth benar-benar bersungguh dalam mendampingi sang suami sehingga berhasil menyelesaikan pidatonya dengan khidmat setelah mendapat terapi bimbingan dari Lionel.

Tak luput dari peran Rush yang berakting menjadi Lionel seorang terapi asal Australia iya bisa membawa perannya dengan baik meskipun ada sedikit rasa kita melihat ia bermain kurang membawa emosional kita selama menonton.

Menurut saya *ini menurut saya ya* film ini bagus untuk disimak dan di tonton. Film ini mengandung makna dimana keterbatasan kita yang kita pungkiri tidak akan bisa kita atasi dapat kita lewati dengan adanya dukungan dari orang tercinta di sekitar kita.

Walaupun sesekali dalam pertengahan film ini ada sebagian ada penonton yang memilih untuk keluar lebih awal, dan belum menuntaskan film tersebut sampai habis, mungkin saya bisa maklumi karena film ini cuma berdialog, bercakap-cakap tanpa ada aksi dar der dor ataupun hantam sana hantam sini layaknya film action yang akan membuat kita penasaran sampai sang bandit bisa mati tuntas ditangan “anak muda”.

Tetapi dibalik itu semua, aku menikmati mengisi “menghibur diri” dengan nonton sendirian.

Tag: , ,

2 Tanggapan to “The King’s Speech”

  1. henny Says:

    Filmnya lumayan bagus walaupun banyak omongnya hehe

  2. reyno Says:

    Menghiburlah😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: