Archive for Juni, 2011

Serba Serbi Perkicauan

Juni 28, 2011

Hari ini genap 2 tahun usia akun twitter sayah. Hehe.

Walau masih tergolong muda sebagai pengguna twitter yang aktif, namun selama 2 tahun itu  juga sayah telah banyak mengalami suka duka dalam bertwitter, dari mendapat teman baru, saling bertukar pikiran membahas sesuatu yang lagi naik daun kayak ulet bulu *krik-krik*, di report spam (pasti adalah yang tega begini sama akun saya. Sayah yakin sangat ini), di unfollow, di singgung sampai tersungging *halah* , bahkan  sampai dikirimkan link spam-spam yang amat sangat tidak berguna oleh akun “sampah”.

(more…)

Kutipan Kutipan Indah

Juni 23, 2011

Utak atik iseng si google doodle mencari quote-quote yang indah dan menarik, sayah menemukan rangkaian kutipan-kutipan indah ini yang tersimpan di mesin pencari pintar Google. Silahkan dinikmati kutipan-kutipan indah ini, siapa tau bermanfaat bagi yang mampir disini :

(more…)

Keberuntungan?

Juni 22, 2011

 

Ada artikel yang sungguh inspiratif nih, yang saya baca dari sebuah situs tempat saya ikutan eksis juga disana. Tulisan ini seperti biasa di tulis oleh si Om Warm, seorang pria yang gemar menulis tulisan inspiratif, lucu bahkan cerita konyol.  Yuk kita simak tulisan hasil copas tanpa rekayasa genetik ini *eh?* 🙂

Saya jadi teringat akan acara masterchef beberapa hari yang lalu, yang katanya salah satu masterchef host marangkap juri bernama Juna itu menjadi semacam seleb juga sekarang.  Hebat bener itu bisa mencicipi sekaligus memberi kritikan pedes kalo ada yang masa kurang bener.  Tapi sekilas pujiannya yang jarang terdengar, dan juga tak kentara, kelihatan sekali membuat peserta sumringah dan seneng.

Tapi ini bukan tentang sang juri tukang masak yang seleb itu.

Ini kebetulan saya ingat saat seorang peserta yang karena menjadi yang terbaik di babak pertama, asli saya lupa namanya, nah trus di babak berikutnya dia mendapat beberapa keuntungan, dua keuntungan tepatnya.

Babak kedua ceritanya diminta memasak dengan bahan utama santan.  Nah sipemenang itu mendapat keuntungan dengan mendapatkan bahan utama berupa santan yang sudah jadi.  Tidak seperti peserta yang lain yangharus bersusah payah lagi membuat santan dari awal, karena yang dikasih hanyalah sebutir kelapa utuh *untung sudah dikupas euy*

Keuntungan lainnya adalah sementara yang lain dikasih batasan waktu untuk memilih bahan masakan, sipemenang tadi tidak diberi batasn waktu, jadi dipersilahkan semena-mena bolak-balik ngambil bahan jika nantinya dalam waktu satu jam itu ada yang kurang.

Asiknya ada dua peserta yang berbeda pandangan mengenai ‘keberuntungan si pemenang sementara itu’  Begini kalo ga salah..

 

Mengenai hadiah santan yang sudah jadi.. *direka ulang dengan semena-mena*

Calon Chef merangkap Model : ” Ih enak banget ya dapet santan langsung gitu, ga perlu repot pake marut segala.  Meres, kan lumayan ngurangin waktu.  ”

Calon Chef berkemeja berambut panjang : “Ya sebenernya sih rugi juga dia.  Soalnya ga tau itu santan yang sudah jadi masih fresh apa ngga.  Mendingan kita yang dikasih mentahannya, jadi bisa bikin sendiri dan ngira-ngira kadar santan yang diinginkan.”

 

Lalu mengenai keuntungan bolak-balik.. *lagi-lagi direka ulang dengan semena-mena*

Calon Chef merangkap Model : ” Ya untung dong dia. Bisa ngambil apaaja keperluannya jika ada yang terlupa, sementara kita harus berusaha dengan waktu yang terbatas serta bahan-bahan yang sudah diambil dalam waktu yang udah ditentuin. Sungguh bikin ngiri ngiri ngiri * ”  *oke kalimat terakhir Cuma ditambah-tambahin doang, ga ada dalam dunia nyata hihi*

Calon Chef berkemeja berambut panjang : “Untung kita lah.  Soalnya dengan waktu yang terbatas kita jadi bisalebih fokus, bisa nentuin apa yang sbenernya bener-bener diperlukan.  Sementara kalau dikasih kebebasan gitu, malah jadi kurang fokus, bisa-bisa tak sesuai dengan rencana semula”

***

See?

Satu kejadian, ternyata bisa menjadi dua fikiran yang berbeda di otak dua orang yang berbeda pula.   Apa yang bikin ngiri dan mungkin terkesan negatif di kepala orang lain, ternyata malah menjadi hal yang positif bagi yang lainnya.

Jadi ternyata menyikapi sebuah masalah, tak lebih dari seni menata hati dan pikiran rupanya.  Mungkin kira-kira demikian adanya.
😀


%d blogger menyukai ini: