Insidious

Sorang teman bercerita kepada sayah bahwa dia sudah menonton sebuah film berjudul Insidious. Dia pun mengatakan bahwa film tersebut sungguh menyeramkan. Sayah pun berdalih kepadanya dengan mengatakan bahwa paling lebih serem film Jelangkung (tahun 2001 ) atau film Pocong (tahun 2006) karena film hantu produksi Indonesia itu lebih serem ketimbang film hantu versi luar, yah maklum hantu nya kan Indonesia banget.  Pocong atau kuntilanak kan jauh lebih serem dibandingkan dengan Vampire atau hantu versi luar negeri lainnya, nggak percaya coba buktikan dan liat saja sendiri kalau berani.

Namun, rasa penasaran saya setelah cerita dari teman tentang film berjudul Insidious tersebut, akhirnya memacu adrenalin saya untuk menonton demi membuktikan sendiri rasa penasaran sayah.  Dan sayah pun akhirnya berkesempatan untuk menonton film bergenre horor tersebut kemarin. Tak disangka tak dinyana filmnya ternyata benar-benar mengandalkan suasana seram dan meneganggkan seperti apa yang diceritakan oleh teman saya tersebut. Tentunya keseraman dan ketegangan dalam arti kata di film ini tidaklah seperti seram karena banjir darah atau adanya adegan tubuh yang terpotong, tetapi film ini benar-benar mengadalkan adanya hantu, setan, iblis, jin dan kawan-kawan. Seram nya pun sungguh memuaskan dan luar biasa.

Jalan cerita film ini sederhana saja, seperti layaknya film jenis ini lainnya.  Menceritakan sepasang suami istri yaitu Josh (diperankan Patrick Wilson) dan Renai Lambert (diperankan oleh Rose Byrne) yang baru saja pindahan kesebuah rumah, bersama dengan tiga anak mereka, Dalton (diperankan oleh Ty Simpkins), Foster  (diperankan oleh Andrew Astor) dan Cali yang masih balita.  Tidak lama dari beberapa hari setelah pindah di rumah tersebut, Dalton tanpa sengaja mengintip rasa penasarannya akan ada sesuatu di atas loteng, dan pada saat itu juga dia mengalami insiden kecil karena jatuh dari tangga namun tidak membahayakan dirinya, namun entah kenapa ke esokan harinya Dalton ditemukan oleh dalam keadaan koma. Tiga bulan pun berlalu, Dalton masih saja dalam keadaan koma. Dokter dan ahli medis lainnya pun tidak menampik akan ada sesuatu penyakit yang di deritanya dan akhirnya Dalton di rawat untuk perawatan koma di rumah saja.  Namun kemudian Renai pun mulai merasakan ada suatu keganjilan yang terjadi, karena Ia merasa diganggu oleh sosok-sosok makhluk misterius yang ia yakini bukan manusia. Renai meyakinkan sekali  jika rumah mereka berhantu.

Tidak seperti kebanyakan film-film horor lainnya yang tinggal dirumah angker tetap bertahan dirumah tersebut yang membuat para penonton sebal dan kesal, jalan ceritanya ternyata pintar dengan membuat adegan  memutuskan untuk pindah dari rumah berhantu tersebut. Josh sang suami pun sebenarnya tidak terlalu percaya akan ketakutan sang istri yang sampai akhirnya mereka pindah rumah.  Namun ternyata dengan pindah rumah pun masalah ini belum selesai yang nyatanya bukan solusi yang terbaik bagi keluarga mereka. Sejak di rumah baru itupun, ibunya Josh Lorraine (diperankan oleh Barbra Hershey) selalu membantu mereka dan mengerti akan sesuatu yang terjadi pada keluarga ini.  Atas saran ibunya mereka  akhirnya memanggil seorang cenayang bernama Elise Reiner (diperankan Lin Shaye) yang dibantu oleh dua orang ahli mahluk gaib bak “ghost hunter” yang dipersenjatai perlengkapan moderen, Specs (diperankan Leigh Whannell) dan Tucker (diperankan Angus Sampson), untuk membantu Lambert sekeluarga dalam menghadapi gangguan mahluk halus tersebut.  Lantas, apa sebenarnya latar belakang terror dari berbagai makhluk ghaib tersebut terhadap keluarga Josh?

Kelebihan film yang di sutradarai oleh James Wan ini adalah efekftinya kengerian untuk para penonton sehingga dampak rasa ketakutan yang mencekam dapat terbangun dengan baik dikarenakan di mana setiap efek horor di bangun melalui penempatan sudut pandang kamera yang tepat. Bayangkan saja, ada adegan benar-benar ngeri dan bikin merinding karena ada penampakan hantu anak-anak yang menari di siang hari bolong. Hiiii…!!! Yang tidak disangka-sangka adalah ending dari film ini. Silahkan tebak saja sendiri.

Banyak yang menilai film Insidious ini adalah film ini adalah film ter-horor klasik. Atau mungkin juga kita terlalu dini untuk menilai film ini sebagai film horor yang klasik? tetapi hal itu bisa juga dinilai mengingat dimana ditengah kengerian film-film horor yang lain, film ini sungguh bisa menangkap sebuah esensi horor dan jelas horor dan seramnya terasa lebih superios, sebuah film yang dengan jeli membangun dan memacu adrenalin salah satu naluri dasar manusia kepermukaan,  yaitu rasa takut. Rasa takut yang timbul karena terbitnya rasa percaya terhadap hal yang dilihatnya di layar dimana saat kita memiliki rasa penasaran yang kemudian berujung pada rasa takut.

Jujur, setelah nonton film ini, saya merasa parno. Pulang kerumah saya  masih kebanyang mengingat iblis,setan,hantu, jin dan mahluk serem lainnya di film tersebut. Pada saat bercermin pas cuci mukapun parno saya makin menjadi-jadi, yaitu saya membayangkan takut ada bayangan makhluk lain yang muncul dibayangan cermin disaat saya sedang berkaca. Untuk tidur pun saya terpaksa tidak mematikan lampu, saking rasa takut saya yang benar2 dihatui gara-gara film horor sialan tersebut (saat menulis artilel ini pun saya masih merasa merinding).  Jadi, kalau pemirsa semua ingin merasakan sensasi seram dan jejeritan dalam menonton film horror, silahkan nonton film Insidious ini, karena adalah pilihan tepat dan teratas.  Ngeliat posternya saja sudah bikin merinding hahaha

eh tapi ngomong-ngomong soal serem, seremnya film Insidious ini sama halnya ketika saya pernah mengalami kejadian langsung bertemu dengan makhluk-makhluk yang bikin bulu kuduk merinding ini*

*adalah benar-benar kejadian pengalaman uka-uka yang pernah saya alami di tahun 2007 silam pada saat saya di tempatkan dilokasi proyek HTI kawasan hutan di lokasi perbatasan selat Bangka.

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: