Faktor U atau….?

Baru-baru saja saya ikut Garthering employee dilokasi waterboom. Ceritanya sekalian ramah-tamah, training singkat dan games seru biar sesama karyawan pusat dan antar cabang lebih mengenal satu sama lain. Halah cuma seharian saya disana, pulang-pulang badan saya masuk angin disertai flu sampai kaki pengkor tiga hari. Tidak tahu mengapa di Indonesia disebut “masuk angin”. Yang jelas sudah menjadi budaya orang indonesia kalau badan nggak enak, perut kembut, sering bersendawa, sering kentut yang mengeluarkan aroma “khas” kayak habis makan ubi (ini yang paling sering), kepala pusing bahkan sampai suhu tubuh meninggi itu bisa dikategorikan masuk angin. Tipikal Indonesia banget!

Pulang-pulang dari gathering saya langsung minta dikeroki si emak. Saya pikir dengan dikeroki badan saya akan merasa agak enakan dikit (seperti biasa kalau saya nggak enak badan, dikeroki langsung seger). Eh nggak tahunya masuk angin dan flu ini berlanjut sampe tiga hari. Minum obat flu, sampe vitamin c pun percuma. Alhasil saya di berikan sahabat yang membesuk saya kerumah berupa 3 kotak antangin biar bablas angine. Gila! Ini saya dikira masuk angin apa masuk anjing coba?

Dengan menghadiri acara Gathering employee, saya jadi dikenal banyak orang-saking banyaknya saya sering lupa nama mereka. Senang juga rasanya menebak wujud orang yang saya temui karena sebelumnya  selama ini biasanya kami berhubungan hanya melalui telpon atau email. Yang lebih lucu lagi mereka selalu salah menebak saya karena Nama saya yang sedemikian ‘aneh’ nya yang katanya tidak sesuai dengan wujud dan perangainya dan mukanya. Hehe!

Tetapi, Ada hikmah ‘terselubung’ yang saya dapatkan selama mengikuti gathering yang berlangsung seharian itu-selain mengenal banyak orang tentunya. Pertama, seperti yang saya jelaskan pada paragraf pertama diatas, saya jadi heran mengapa pula saya bisa  sakit begitu cuma karena berenang dan bersenang-senang seharian-padahal saya orang yang dikategorikan rajin  olah raga teratur dan fitness aja klo capek langsung dibawa tidur besoknya badan malah tambah seger. Kedua ketika games  antar karyawan dimulai yaitu gamesnya meniup balon dan berjalan berbaris bersama kelompok dengan mata tertutup sambil balon di tempeli ke perut masing-masing. Ketika saya memulai meniup balon keparnoan saya yang pertama pun datang, yaitu saya yang tadinya tidak ada masalah apa-apa kalau dengan suara petasan atau apapun, eh mendadak hari itu saya takut balon saya pecah kalau saya sedang tiup-tentunya juga takut kalau-kalau balon yang ditempeli diperut itu sampai pecah pula. Duh!. Ketiga, karena lokasinya di waterboom otomatis saya langsung noraknya kayak anak kecil sambil cebur-ceburan dan bermain beberapa wahana di kolam. Kapan lagi coba? Mumpung gratisan maen di waterboom, hehe!  Saya yang tadinya suka banget dengan permainan meluncur disegala jenis objek luncuran disetiap waterboom yang pernah saya kunjungi eh entah kenapa tiba-tiba saya mencoba permainan itu saya jadi merasa parno lagi.  Masa cuma diatas ketinggian yang menurut saya biasa-biasa aja saya jadi jiper takut ketinggian seketika (acrophobia altophobia). Padahal selama ini saya kan orang yang suka tempat yang berada di ketinggian-malah permainan halilintar, histeria dan tornado di dufan dulu, mah kecil bagi saya. Siapa takut?

Ternyata setelah pikir-pikir, mungkin faktor “U”- alias umur atau usia lah yang sangat berpengaruh.  Bisa jadi dikarenakan kemampuan fisik yang sudah berkurang dan waktu yang semakin terbatas. Dulu bisa-bisanya saya seharian kesana kesini jalan-jalan (traveling,window shopping, kongkow-kongkow bareng teman, ikutan dipaksa dugem) bahkan diselingi olah raga (Main bola,futsal,fitness dan renang) saya baik-baik aja malah sehat wal’afiat. Apalagi diselingi lenyeh-lenyeh diranjang -Saya menyebutnya “The Art of Doing Nothing”.  Tidak pernah saya kena yang namanya “parno” takut terhadap apapun apalagi takut balon pecah eh begitu games di gathering kemarin saya jadi benar-benar kayak kondisi teman saya yang pobia sama balon apalagi sampai tuh balon pecah (saya tidak tahu apa nama jenis pobia ini).

Padahal selama ini saya kan orang yang suka tempat yang berada di ketinggian seperti, suka naik gunung, dulu suka nyobain main perosotan unik di FX Mall pun sering, bahkan menikmati pemandangan kota sambil nangkring dibibir jendela kantor lama dari lantai 19 di Jl. Thamrin Jakarta Pusat. Belum lagi permainan halilintar, histeria dan tornado di dufan dulu adalah permainan yang tak bosan saya naiki setiap kesana saking beraninya.

Apakah ini juga tanda-tanda penuaan dini ya? Atau mungkin saya kurang mengasah  kegiatan yang memacu adrenalin karenakan rutinitas pekerjaan saya di kantor yang semakin padat? Kurang refreshing mungkin? Nggak juga, olahraga rutin yang selama ini saya jalani termasuk refreshing bagi saya. Ah entahlah yang jelas saya masih anak muda kok. Belum mau mengaku tua. Umurpun masih kategori berkepala dua. Eh, btw, ada yang sudah tau umur saya berapa sekarang? Hehe!

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: